TOBELO, MALUTLINE – Dugaan maraknya peredaran rokok tanpa pita cukai di wilayah Maluku Utara kembali memantik perhatian publik. Kali ini, Front Anti Korupsi Indonesia (FAKI) Maluku Utara meminta Kepolisian Daerah (Polda) Maluku Utara dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tidak tinggal diam, tetapi segera mengusut dugaan jaringan distribusi rokok ilegal yang disinyalir memanfaatkan Pelabuhan Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, sebagai jalur pemasukan barang.
Ketua FAKI Maluku Utara, Dani Haris Purnawan, menegaskan bahwa persoalan tersebut harus ditangani secara serius dan menyeluruh. Menurutnya, peredaran rokok yang diduga tidak memenuhi kewajiban cukai bukan sekadar persoalan pelanggaran perdagangan, melainkan berpotensi menggerus penerimaan negara dan merusak tata niaga hasil tembakau.
Dalam keterangannya kepada Malutline, Minggu (8/11/2026), Dani meminta aparat penegak hukum tidak hanya menyasar pedagang kecil yang menjual produk di tingkat pengecer. Penyelidikan harus diarahkan kepada pihak yang diduga menjadi pemasok, pemilik barang, pengendali distribusi, hingga jaringan yang memperoleh keuntungan dari aktivitas tersebut.
“Jangan sampai penegakan hukum hanya berhenti pada pedagang kecil. Kami ingin aparat berani menelusuri sumber barang, siapa pemiliknya, siapa yang memasok, dan siapa yang mengendalikan jalur distribusinya. Kalau memang ada jaringan besar, bongkar sampai ke akar-akarnya,” tegas Dani.
Dugaan Bekingan Oknum Aparat Harus Diperiksa
Selain mendesak pengungkapan jaringan pemasok, FAKI turut menyoroti munculnya dugaan keterlibatan oknum petinggi kepolisian yang disebut-sebut memberikan perlindungan terhadap aktivitas distribusi rokok ilegal.
Dani menegaskan, informasi tersebut tidak boleh diabaikan. Namun, dugaan keterlibatan aparat harus dibuktikan melalui proses penyelidikan yang objektif, independen, dan profesional.
FAKI meminta Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri mengambil langkah pemeriksaan apabila terdapat laporan maupun bukti awal yang mengarah pada keterlibatan anggota kepolisian.
Menurutnya, institusi penegak hukum harus menjaga integritas dan kepercayaan masyarakat. Tidak boleh ada anggota yang menggunakan jabatan atau kewenangannya untuk melindungi aktivitas yang bertentangan dengan hukum.
“Kalau memang ada oknum yang terlibat, jangan dilindungi. Periksa secara terbuka dan berikan sanksi sesuai aturan apabila terbukti. Hukum tidak boleh tunduk kepada jabatan maupun kekuasaan,” ujarnya.
Pelabuhan Tobelo Diminta Menjadi Prioritas Pengawasan
FAKI juga meminta aparat memberikan perhatian khusus terhadap aktivitas bongkar muat barang di Pelabuhan Tobelo.
Berdasarkan informasi dan temuan lapangan yang diklaim diperoleh organisasi tersebut, pelabuhan itu diduga menjadi salah satu jalur masuk rokok yang kemudian dipasarkan ke sejumlah wilayah di Maluku Utara.
Karena itu, Dani mendesak Bea Cukai bersama aparat kepolisian melakukan penelusuran terhadap dokumen manifest kapal, identitas pengirim dan penerima, perusahaan pengangkutan, serta pergerakan barang dari pelabuhan menuju wilayah distribusi.
Apabila ditemukan pengiriman dalam jumlah besar menggunakan kontainer secara berulang, maka aktivitas tersebut perlu diperiksa secara mendalam untuk memastikan kepatuhan terhadap ketentuan kepabeanan dan cukai.
“Jangan hanya melihat barang yang beredar di pasaran. Periksa jalur masuknya, periksa dokumennya, dan telusuri siapa yang bertanggung jawab. Jangan sampai ada jaringan besar yang terus beroperasi tanpa tersentuh hukum,” tambahnya.
FAKI Soroti Potensi Kehilangan Penerimaan Negara
Dalam persoalan ini, FAKI turut mengangkat potensi penerimaan negara yang berisiko tidak tertagih akibat peredaran rokok tanpa pelunasan cukai.
Berdasarkan simulasi yang disampaikan FAKI, satu kontainer berukuran 20 kaki diasumsikan mampu memuat sekitar 284 karton, dengan setiap karton berisi 800 bungkus rokok. Dengan demikian, estimasi muatan mencapai 227.200 bungkus.
Mengacu pada asumsi tarif yang digunakan FAKI, berikut gambaran potensi nilai cukai:
1. SKM 20 batang: asumsi Rp29.700 per bungkus, dengan estimasi potensi cukai sekitar Rp6,74 miliar.
2. SKM 10 batang: asumsi Rp14.850 per bungkus, dengan estimasi potensi cukai sekitar Rp3,37 miliar.
3. SKT 12 batang: asumsi Rp10.325 per bungkus, dengan estimasi potensi cukai sekitar Rp2,35 miliar.
FAKI menegaskan bahwa angka tersebut merupakan simulasi berdasarkan asumsi kapasitas muatan dan tarif yang digunakan, bukan angka kerugian negara yang telah ditetapkan melalui audit atau pemeriksaan resmi.
Besaran kewajiban cukai yang sebenarnya tetap harus diverifikasi berdasarkan jenis produk, golongan, tarif yang berlaku, serta ketentuan perundang-undangan.
Meski demikian, Dani menilai besarnya potensi penerimaan yang dipersoalkan tersebut menjadi alasan kuat bagi pemerintah dan aparat terkait untuk meningkatkan pengawasan.
Sejumlah Produk Rokok Ikut Menjadi Perhatian
FAKI juga menyebut sejumlah merek rokok yang berdasarkan informasi dan pengamatan mereka ditemukan beredar di pasaran, di antaranya Rastel, Omni, Martil, Drone, BSJ, Lato-lato, Sniper, Boston, Hummer, Manchester, Anker, Roadrace, hingga Smith.
Namun, FAKI menilai status setiap produk harus diperiksa secara resmi oleh Bea Cukai. Sebab, legalitas suatu produk tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan nama merek, melainkan harus dilihat dari pita cukai, identitas produk, dan dokumen yang menyertainya.
Empat Desakan FAKI kepada Aparat dan Instansi Terkait
Sebagai bentuk pengawasan masyarakat, FAKI Maluku Utara menyampaikan empat poin desakan.
Pertama, meminta Polda Maluku Utara dan Polres Halmahera Utara segera menelusuri dugaan jaringan peredaran rokok ilegal, termasuk pemasok, pemilik barang, jalur pengiriman, dan pihak yang diduga mengendalikan distribusi.
Kedua, meminta Propam Polri melakukan pemeriksaan apabila terdapat bukti awal mengenai dugaan keterlibatan anggota maupun pejabat kepolisian dalam aktivitas tersebut.
Ketiga, mendesak Bea Cukai memperketat pengawasan Pelabuhan Tobelo, melakukan pemeriksaan manifest kapal, dokumen pengiriman, serta memastikan seluruh barang kena cukai memenuhi ketentuan yang berlaku.
Keempat, meminta penegakan hukum dilakukan secara adil dan tanpa tebang pilih terhadap siapa pun yang terbukti terlibat, baik masyarakat sipil maupun aparat negara.
Dani menegaskan bahwa FAKI tidak ingin persoalan tersebut hanya menjadi konsumsi pemberitaan tanpa adanya langkah konkret dari instansi berwenang.
“Ini menyangkut kewibawaan hukum dan kepentingan negara. Jangan sampai masyarakat kecil terus menjadi sasaran penindakan, sementara pihak yang diduga mengendalikan jaringan justru tidak tersentuh. Kami meminta Kapolda Maluku Utara menunjukkan keseriusan dalam mengungkap persoalan ini,” pungkasnya.
FAKI Maluku Utara menyatakan akan terus mengawal perkembangan persoalan tersebut serta mendorong aparat penegak hukum dan Bea Cukai menyampaikan hasil penanganan secara transparan kepada masyarakat.
Hingga berita ini diterbitkan, dugaan jaringan distribusi dan keterlibatan oknum aparat tersebut masih memerlukan pembuktian melalui penyelidikan resmi. Pihak Polda Maluku Utara, Polres Halmahera Utara, dan Bea Cukai perlu diberikan ruang untuk menyampaikan klarifikasi maupun tanggapan. (Red)