LABUHA, Malutline.com – Pulau Obi selama ini dikenal luas sebagai salah satu kawasan dengan aktivitas pertambangan yang berkembang pesat. Namun, di balik geliat industri tersebut, sektor pertanian perlahan mulai menunjukkan potensi sebagai salah satu penopang ekonomi masyarakat.
Gambaran itu terlihat dari panen perdana Kelompok Tani Milenial di Desa Buton, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Di tengah kemarau panjang dan kondisi cuaca yang tidak menentu, para petani berhasil menghasilkan sedikitnya 6,5 ton padi per hektare, melampaui target produktivitas nasional sebesar 5,7 ton per hektare.
Panen tersebut berlangsung pada Senin (7/9/2026), dalam rangkaian Panen Raya Padi bertema “Sinergi Membangun Negeri”. Kegiatan itu dihadiri Kepala Dinas Pertanian Halmahera Selatan, Suryatmi Aldjokja, jajaran BPP Pertanian Obi, Forkopimcam, serta perwakilan pemerintah desa di Kecamatan Obi.
Lahan yang dipanen Kelompok Tani Milenial mencapai sekitar 12,5 hektare. Berdasarkan hasil ubinan yang dilakukan tim pendamping, produktivitas padi mencapai sedikitnya 6,5 ton per hektare.
Para petani menanam sejumlah varietas, di antaranya Inpari, padi gogo, serta Mentik Wangi. Sempat Gagal Tanam, Petani Tak Menyerah
Hasil panen tersebut menjadi cerita tersendiri bagi para petani. Ketua Kelompok Tani Milenial, Ruslan Kasman, mengungkapkan bahwa perjalanan menuju panen perdana tidak mudah.
Bibit yang pertama kali ditanam sempat mengalami kegagalan setelah diguyur hujan. Ketika penanaman kembali dilakukan, persoalan lain muncul. Kemarau panjang melanda wilayah tersebut.
“Kami sempat hampir putus asa. Kami tanam lagi, ternyata setelah itu kemarau panjang,” ujar Ruslan.
Ia mengatakan keberhasilan panen tidak terlepas dari pendampingan berbagai pihak, termasuk dukungan pemerintah dan pihak perusahaan dalam pengadaan sarana irigasi.
“Kami berterima kasih kepada pemerintah dan perusahaan yang terus mendampingi kami, termasuk dalam pengadaan irigasi, sehingga pengairan tetap lancar,” katanya.
Pertanian Obi Mulai Menunjukkan Perkembangan
Kepala Dinas Pertanian Halmahera Selatan, Suryatmi Aldjokja, menilai panen tersebut menjadi bukti bahwa pengembangan sektor pertanian di Obi mulai menunjukkan perkembangan positif.
Menurut Suryatmi, ketika dirinya pertama kali mengunjungi Desa Buton pada awal tahun, Kelompok Tani Milenial baru saja dibentuk dan diresmikan. Namun, dalam waktu relatif singkat, kelompok tersebut telah mampu memasuki masa panen perdana.
Ia menilai perkembangan tersebut sejalan dengan konsep Agromaritim Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, yang mengintegrasikan sektor pertanian, kelautan, dan perikanan dengan memanfaatkan potensi darat maupun laut secara terpadu dan berkelanjutan.
“Dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak sangat diperlukan, termasuk pihak swasta. Kami serius berjuang meningkatkan kesejahteraan petani,” ujar Suryatmi.
Ia juga mengapresiasi dukungan Harita Nickel yang terus melakukan pendampingan kepada masyarakat dalam mendukung program ketahanan pangan daerah.
SENTANI Dorong Pertumbuhan Kelompok Tani
Pendampingan tersebut salah satunya dilakukan melalui program Sentra Ketahanan Pangan Obi (SENTANI).
Program yang sebelumnya melibatkan dua kelompok tani itu kini berkembang menjadi tiga kelompok, yakni Kelompok Tani Milenial, Akemoriri, dan Batu Putih.
Ketiga kelompok tersebut memiliki total sekitar 42 anggota dengan luas lahan garapan mencapai 30 hektare.
Musim panen kali ini juga tidak hanya berlangsung di lahan Kelompok Tani Milenial. Kelompok Tani Akemoriri dan Batu Putih turut dijadwalkan melakukan panen pada musim yang sama.
Total lahan yang diperkirakan dipanen dari tiga kelompok tersebut mencapai sekitar 25 hektare dari total 30 hektare lahan garapan.
Community Development Manager Harita Nickel, Broto Suwarso, mengatakan keberhasilan panen di tengah kondisi anomali cuaca menjadi pembelajaran penting bagi pengembangan pertanian di Obi.
Menurutnya, pertanian harus terus beradaptasi terhadap perubahan iklim dengan tetap bertumpu pada pengetahuan dan pengalaman masyarakat setempat.
“Petani Obi memiliki kearifan lokal dalam membaca perubahan cuaca, kondisi lahan, dan ketersediaan air. Pengetahuan ini penting untuk dikembangkan agar pertanian semakin adaptif terhadap perubahan iklim dan mampu memperkuat ketahanan pangan,” kata Broto.
Ia menjelaskan, langkah adaptasi dapat dilakukan melalui pemilihan varietas yang sesuai dengan kondisi lahan, pengaturan irigasi secara bergilir, hingga pemanfaatan lahan kering untuk tanaman palawija.
Menariknya, geliat pertanian tersebut mulai menumbuhkan minat warga lainnya. Sekitar 15 warga disebut telah berencana membentuk kelompok tani baru.
Petani Ingin Pertanian Menjadi Masa Depan Obi
Pertumbuhan sektor pertanian tersebut mendapat perhatian dari Komunitas Pelangi (Perintis Kedaulatan Pangan Obi) yang selama ini beranggotakan para pegiat pertanian di wilayah Obi.
Ketua komunitas sekaligus perintis pertanian Desa Buton, Darwan Aduhasan, mengatakan perkembangan pertanian harus diikuti dengan pembangunan ekosistem yang mampu memberikan kepastian dan rasa aman bagi petani.
Menurutnya, sejumlah kebutuhan seperti pendampingan berkelanjutan, pembangunan irigasi, ketersediaan peralatan pertanian modern, hingga kepastian status lahan menjadi faktor penting agar masyarakat berani mengembangkan usaha pertanian.
“Pertanian bagi kami adalah masa depan, bukan masa lalu. Kita ingin membangun petani yang modern dan pertanian yang memakmurkan masyarakat,” tegas Darwan.
Obi Punya Pilihan Ekonomi Selain Tambang
Panen perdana di Desa Buton memberikan gambaran bahwa Obi tidak hanya memiliki potensi pada sektor pertambangan. Di tengah aktivitas industri yang berkembang, sektor pertanian juga mulai tumbuh dan memiliki peluang untuk menjadi bagian dari sumber ekonomi masyarakat.
Jika pendampingan, infrastruktur pertanian, kepastian lahan, teknologi, serta akses pasar terus diperkuat, bukan tidak mungkin kawasan Obi memiliki sumber pertumbuhan ekonomi yang lebih beragam.
Pertanian bahkan dapat menjadi salah satu fondasi ketahanan pangan sekaligus membuka peluang usaha baru bagi generasi muda di wilayah tersebut.
Panen 6,5 ton per hektare di tengah tantangan cuaca menjadi sinyal awal bahwa lahan pertanian di Obi masih memiliki ruang besar untuk dikembangkan.
Dengan kolaborasi pemerintah, masyarakat, kelompok tani, pihak swasta, serta komunitas lokal, pertanian Obi diharapkan tidak sekadar menjadi aktivitas sampingan, tetapi mampu berkembang menjadi sektor ekonomi yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Halmahera Selatan. (Red)






