Malut Line

HALSEL, Malutline. Com Ketua Sanggar Budaya Waidoba, Suriyadi Fadel, mengapresiasi langkah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, Dr. Hi. Abubakar Abdullah, yang menyampaikan pidato menggunakan bahasa daerah Makian saat memperingati Hari Sumpah Pemuda di SMA Negeri 3 Halmahera Selatan (Halsel), di Desa Gitang

Menurut Suriyadi Fadel, penggunaan bahasa daerah dalam momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda merupakan langkah positif sekaligus bentuk nyata kepedulian terhadap pelestarian bahasa daerah sebagai bagian dari identitas dan kekayaan budaya bangsa.

Ia menilai, langkah tersebut sejalan dengan semangat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang menetapkan bahasa sebagai salah satu dari sepuluh Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK). Selain bahasa, objek tersebut meliputi tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.

“Kami dari Sanggar Budaya Waidoba sangat mengapresiasi langkah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara yang berani menggunakan bahasa daerah Makian dalam pidatonya. Ini merupakan contoh baik bahwa bahasa daerah harus terus digunakan, diwariskan, dan dibanggakan oleh generasi muda,” ujar Suriyadi Fadel.

Ia menegaskan bahwa bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga menyimpan nilai sejarah, identitas, pengetahuan lokal, serta kearifan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.

Suriyadi juga mendorong Dinas Pendidikan dan Dinas Kebudayaan Kabupaten Halmahera Selatan untuk memperkuat sinergi dalam menjaga dan melestarikan bahasa daerah yang hidup di tengah masyarakat Halsel.

Menurutnya, Halmahera Selatan memiliki kekayaan bahasa dan subbahasa daerah yang beragam. Kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian serius melalui kebijakan yang terarah, khususnya di sektor pendidikan, agar bahasa daerah tidak semakin ditinggalkan oleh generasi muda.

Salah satu langkah strategis yang diusulkannya adalah menghadirkan mata pelajaran bahasa daerah sebagai muatan lokal di setiap satuan pendidikan, dengan menyesuaikan bahasa yang digunakan oleh masyarakat di wilayah masing-masing.

“Dinas Pendidikan dan Dinas Kebudayaan Halsel harus berjalan bersama. Kita memiliki beragam bahasa dan subbahasa daerah yang merupakan kekayaan budaya daerah. Karena itu, perlu ada kebijakan nyata agar bahasa-bahasa tersebut tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tegasnya.

Ia mencontohkan Kota Ternate yang telah mengembangkan bahasa daerah sebagai mata pelajaran muatan lokal di sekolah. Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi referensi bagi Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan dalam merumuskan kebijakan pelestarian bahasa daerah melalui dunia pendidikan.

Suriyadi berharap pemerintah daerah tidak hanya menjadikan pelestarian bahasa daerah sebagai slogan, tetapi juga menerjemahkannya ke dalam program dan kebijakan yang berkelanjutan, termasuk penyusunan kurikulum muatan lokal, penyediaan bahan ajar, serta pelibatan tokoh adat, budayawan, dan penutur bahasa daerah.

Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan keluarga dan masyarakat dalam membiasakan penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, upaya pelestarian tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga tumbuh di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Bagi Sanggar Budaya Waidoba, pelestarian bahasa daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga identitas budaya Halmahera Selatan. Keberagaman bahasa yang dimiliki daerah ini harus dipandang sebagai kekuatan budaya yang perlu dirawat bersama.

“Harapan kami, momentum ini menjadi dorongan bagi pemerintah daerah untuk menghadirkan kebijakan yang konkret. Jangan sampai bahasa daerah kita hanya dikenang dalam cerita orang tua, tetapi tidak lagi dikenal dan digunakan oleh anak-anak kita sendiri,” tutup Suriyadi.

Melalui sinergi pemerintah, satuan pendidikan, komunitas budaya, tokoh adat, dan masyarakat, pelestarian bahasa daerah di Halmahera Selatan diharapkan dapat berjalan secara berkelanjutan sekaligus memperkuat identitas budaya lokal di tengah perkembangan zaman.(Red)

HALSEL, Malutline. Com  Bupati Halmahera Selatan Hasan Ali Bassam Kasuba meresmikan Permukiman Baru Desa Kawasi dan pusat pemerintahan desa di Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, Rabu (28/10). Kegiatan peresmian berlangsung di gedung serbaguna Desa Kawasi, diselenggarakan bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Bassam juga meresmikan fasilitas pengolahan air bersih dengan teknologi reverse osmosis (RO) serta menyerahkan sertifikat tanah kepada warga di permukiman baru.

Kepala Desa Kawasi Arifin Saroa menyampaikan bahwa Harita Nickel mendukung pembangunan permukiman baru beserta fasilitas penunjangnya. Dalam laporannya, kawasan tersebut memiliki 259 unit rumah, fasilitas pemerintahan desa, sarana pendidikan dan kesehatan, rumah ibadah, serta sarana ekonomi masyarakat.

Rincian hunian tersebut terdiri atas 98 unit rumah tipe 108, 74 unit tipe 72, 79 unit tipe 54, dan 8 unit tipe 36.

Bassam berharap permukiman yang baru dapat memberikan tempat tinggal yang layak dan nyaman bagi warga Desa Kawasi. Ia juga menekankan agar  perkembangan industri di  Kawasi diikuti peningkatan  kenyamanan hidup masyarakat.

“Kemajuan itu harus memberikan kenyamanan hidup bagi masyarakat Kawasi karena ini keluarga saya semua,” tuturnya.

Saat meninjau fasilitas pengolahan air bersih, Bassam melihat langsung proses pengolahan air bersih menggunakan sistem media filtrasi dengan sistem otomatis dan teknologi air minum yang dilengkapi teknologi reverse osmosis (RO), ultraviolet (UV), dan ozon.

 


“Air bersih adalah aspek penting dalam kehidupan dasar masyarakat. Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Harita Nickel atas teknologi pengolahan air bersih, termasuk pengelolaan air bakunya. Semoga teknologi ini dapat diterapkan di wilayah lain di Halmahera Selatan,” kata Bassam.

Selain mendukung pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, Bassam juga mengapresiasi komitmen Harita Nickel dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan sosial sebagai bagian dari penerapan praktik pertambangan yang bertanggung jawab. Menurutnya, pengembangan industri perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Menurut laporan kepala desa, fasilitas di permukiman baru meliputi kantor desa, kantor Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tempat beribadah seperti masjid dan gereja, gedung serbaguna, pasar desa, serta bangunan Koperasi Kawasi Bersatu.

Fasilitas pendidikan yang dilaporkan meliputi taman kanak-kanak, sekolah dasar, SMP Loji Permai, SMA Tunas Muda Kawasi, madrasah hingga Taman Kanak-kanak (TK). Sarana lainnya mencakup bangunan Puskesmas Pembantu (Pustu), jalan, drainase, lapangan sepak bola, serta pelabuhan Panji Baru.

Dalam sambutannya, Bassam merujuk Peraturan Daerah Kabupaten Halmahera Selatan Nomor 12 Tahun 2023 dan Peraturan Bupati Halmahera Selatan Nomor 72 Tahun 2023 sebagai landasan penataan permukiman dan pelaksanaan relokasi Desa Kawasi ke kawasan permukiman baru.

Arifin menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan atas kehadiran Bupati dalam peresmian tersebut, serta kepada Harita Nickel atas dukungan pembangunan Permukiman Baru Desa Kawasi.(red)

HALSEL, MALUTLINE – Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, para pemuda Desa Laluin, Kecamatan Kayoa Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, menggelar kegiatan karnaval budaya yang unik dan penuh makna, Rabu (28/10/2026).

Kegiatan yang diinisiasi oleh pemuda Desa Laluin tersebut berlangsung sekitar pukul 15.30 WIT, dengan menghadirkan konsep berbeda dari perayaan pada umumnya. Menariknya, rangkaian kegiatan dipusatkan di perairan laut tepat di depan Desa Laluin, dengan melibatkan peserta yang menggunakan perahu motor, lombot, hingga katinting.

Karnaval tersebut tidak hanya menjadi bagian dari kemeriahan peringatan Hari Sumpah Pemuda, tetapi juga mengangkat nilai-nilai budaya lokal, persatuan, dan perdamaian sebagai pesan utama bagi masyarakat, khususnya warga di Kecamatan Kayoa Selatan.

Kreativitas para pemuda dalam mengemas kegiatan di atas laut menjadi daya tarik tersendiri. Laut yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat kepulauan dimanfaatkan sebagai ruang untuk mengekspresikan semangat kebangsaan sekaligus mempererat hubungan persaudaraan antarmasyarakat.

Ketua panitia, Wista Dahlan, bersama para pemuda Desa Laluin menjadi penggerak utama kegiatan tersebut. Sementara itu, Pemerintah Desa Laluin turut diwakili oleh Kaur Pemerintahan, Samiun Ahad, yang hadir mewakili kepala desa.

Salah seorang tokoh masyarakat Desa Laluin, Muslim Jufri, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kreativitas generasi muda dalam memaknai Hari Sumpah Pemuda melalui pendekatan budaya dan semangat perdamaian.

Menurutnya, peringatan Hari Sumpah Pemuda harus menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, menjaga kerukunan, serta menanamkan kesadaran kepada generasi muda tentang pentingnya merawat kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat.

Ia menilai, karnaval budaya dengan konsep perdamaian tersebut memiliki makna penting, terutama dalam membangun hubungan sosial yang harmonis di wilayah Kecamatan Kayoa Selatan.

“Semangat Sumpah Pemuda harus terus kita jaga bersama. Pemuda memiliki peran penting dalam mempererat persaudaraan, melestarikan budaya daerah, serta menjaga perdamaian di tengah masyarakat,” demikian pesan yang sejalan dengan semangat kegiatan tersebut.

Selain menjadi ajang kreativitas, kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa generasi muda di wilayah kepulauan mampu menghadirkan perayaan yang inovatif dengan tetap mengedepankan nilai-nilai kebangsaan dan kearifan lokal.

Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa semangat Sumpah Pemuda bukan sekadar slogan atau seremoni tahunan, melainkan harus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, seperti gotong royong, toleransi, saling menghormati, dan menjaga persatuan.

Melalui karnaval budaya tersebut, pemuda Desa Laluin diharapkan terus menjadi motor penggerak kegiatan positif di tengah masyarakat serta berperan aktif dalam menjaga keharmonisan dan mendorong kemajuan daerah.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Desa Laluin pun membawa pesan bahwa persatuan dapat dirawat melalui kreativitas, budaya, dan kebersamaan. Dari pesisir Kayoa Selatan, para pemuda menunjukkan bahwa semangat kebangsaan tetap hidup dan dapat diekspresikan dengan cara yang unik, kreatif, serta penuh makna. (Red)

HALSEL, MALUTLINE – Puskesmas Kayoa, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara, menjalin kerja sama dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) untuk mempermudah pelayanan administrasi kependudukan bagi bayi yang baru lahir.

Melalui kerja sama tersebut, setiap persalinan yang berlangsung di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) diupayakan agar langsung ditindaklanjuti dengan pengurusan akta kelahiran bayi. Langkah ini bertujuan memberikan kemudahan bagi orang tua dalam memperoleh dokumen kependudukan tanpa harus menghadapi proses pengurusan yang berbelit-belit.

Hal tersebut disampaikan Kepala Puskesmas Kayoa, Fahrudin Saptu, yang akrab disapa Eden. Ia menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Dukcapil merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, khususnya bagi ibu yang baru melahirkan dan keluarga yang membutuhkan dokumen kependudukan anak.

Menurut Eden, akta kelahiran merupakan dokumen penting yang menjadi bukti identitas dan status kelahiran seorang anak. Karena itu, pengurusan dokumen tersebut sejak dini perlu mendapat perhatian agar hak administrasi setiap anak dapat terpenuhi.

“Melalui kerja sama ini, kami ingin memberikan kemudahan kepada masyarakat. Setiap bayi yang lahir di fasilitas pelayanan kesehatan diharapkan dapat segera difasilitasi dalam pengurusan akta kelahirannya,” demikian penjelasan mengenai tujuan program tersebut.

Ia menambahkan, sinergi antara Puskesmas Kayoa dan Dukcapil diharapkan mampu mempercepat proses pelayanan administrasi kependudukan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya dokumen resmi bagi anak sejak lahir.

Selain memberikan kemudahan bagi orang tua, kerja sama lintas sektor ini juga diharapkan dapat mendukung tertib administrasi kependudukan di wilayah Kecamatan Kayoa, Kabupaten Halmahera Selatan.

Puskesmas sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan tidak hanya berperan dalam memberikan pelayanan medis kepada ibu dan bayi, tetapi juga dapat menjadi penghubung masyarakat dengan instansi terkait untuk mempermudah akses terhadap pelayanan publik.

Eden berharap, kerja sama tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan sehingga masyarakat semakin mudah memperoleh pelayanan yang cepat, efektif, dan tepat sasaran.

Dengan adanya kolaborasi ini, Puskesmas Kayoa berharap setiap bayi yang lahir dapat segera difasilitasi memperoleh identitas hukum melalui penerbitan akta kelahiran sesuai dengan ketentuan dan persyaratan administrasi yang berlaku.

Program ini menjadi salah satu langkah untuk mendekatkan pelayanan publik kepada masyarakat sekaligus memastikan pemenuhan hak identitas anak sejak awal kehidupannya. (Red)

HALSEL, Malutline. Com Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 menjadi momentum refleksi bagi generasi muda untuk menakar kembali komitmen, idealisme, serta peran strategisnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di tengah dinamika kekuasaan dan berbagai kebijakan publik, pemuda dituntut tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga hadir sebagai kekuatan intelektual yang mampu menguji, mengkritisi, dan menawarkan gagasan perubahan.

Arfan Rusli Andili, Ketua Umum Himapro Hukum UNSAN, memandang bahwa peran pemuda dalam mengawal kebijakan kekuasaan dapat dipahami melalui kerangka berpikir tesis, antitesis, dan sintesis. Ketiga konsep ini menjadi pendekatan untuk membangun tradisi berpikir kritis sekaligus mendorong lahirnya kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Menurut Arfan, tesis dapat dipahami sebagai gagasan, keputusan, atau kebijakan yang ditawarkan oleh pemegang kekuasaan. Sementara itu, antitesis merupakan sikap kritis yang menguji kebijakan tersebut melalui argumentasi, realitas sosial, dan kepentingan publik. Adapun sintesis adalah upaya melahirkan gagasan baru melalui evaluasi, dialog, serta pertemuan berbagai pandangan demi menemukan jalan keluar yang lebih baik.

Dalam konteks ini, pemuda memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap kebijakan tidak hanya dinilai dari tujuan yang disampaikan, tetapi juga dari pelaksanaan dan dampaknya terhadap masyarakat.

“Pemuda tidak boleh kehilangan daya kritis di hadapan kekuasaan. Kita harus mampu membedakan antara dukungan yang berlandaskan kepentingan rakyat dan dukungan yang sekadar mengikuti arus. Demikian pula, kritik harus dibangun dengan argumentasi dan solusi, bukan hanya penolakan tanpa arah,” demikian pesan yang menjadi landasan refleksi tersebut.

Arfan menilai bahwa tantangan generasi muda saat ini bukan semata-mata keberanian menyampaikan pendapat, melainkan konsistensi dalam mempertahankan prinsip. Sebab, idealisme sering kali diuji ketika pemuda berhadapan dengan kepentingan, jabatan, maupun berbagai dinamika yang berpotensi menggeser orientasi perjuangan.

Dalam situasi tersebut, pemuda perlu menjaga independensi berpikir agar tidak kehilangan keberanian dalam menyampaikan kebenaran. Sikap kritis tidak harus dimaknai sebagai permusuhan terhadap pemerintah atau pemegang kekuasaan. Sebaliknya, kritik yang objektif dan konstruktif merupakan bagian dari upaya memperbaiki kebijakan serta memperkuat tanggung jawab publik.

Menurutnya, pemuda harus mampu memberikan dukungan terhadap kebijakan yang bermanfaat, menyampaikan koreksi terhadap kebijakan yang bermasalah, dan menawarkan alternatif ketika ditemukan persoalan dalam pelaksanaannya.

Dengan demikian, posisi pemuda tidak berhenti sebagai antitesis yang hanya menolak, tetapi berkembang menjadi kekuatan sintesis yang mampu menghadirkan solusi. Inilah pentingnya membangun budaya intelektual yang tidak hanya mengandalkan keberanian berbicara, tetapi juga memperkuat kemampuan menganalisis persoalan dan merumuskan gagasan berdasarkan fakta.

Sumpah Pemuda dan Tanggung Jawab Sejarah

Memasuki peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, semangat persatuan yang diwariskan para pendahulu bangsa harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. Persatuan tidak berarti menghilangkan perbedaan pendapat, melainkan membangun kesadaran bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan untuk memperkaya gagasan dan mencari solusi bersama.

Pemuda perlu mengambil peran dalam mengawal kebijakan publik, membangun literasi politik, menyuarakan persoalan masyarakat, serta menghidupkan ruang diskusi yang sehat dan bertanggung jawab. Kampus, organisasi kepemudaan, dan berbagai ruang sosial harus menjadi tempat tumbuhnya keberanian intelektual yang berorientasi pada keadilan dan kemajuan bangsa.

Arfan juga menekankan bahwa komitmen pemuda tidak boleh berhenti sebagai ucapan seremonial setiap peringatan Sumpah Pemuda. Janji tentang persatuan, tanggung jawab, dan masa depan bangsa harus dibuktikan melalui konsistensi sikap dan keberanian menjaga prinsip dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, tesis, antitesis, dan sintesis bukan sekadar konsep berpikir, melainkan kerangka refleksi untuk menempatkan pemuda sebagai bagian penting dari proses perubahan. Kekuasaan membutuhkan evaluasi, kebijakan membutuhkan pengawasan, dan masyarakat membutuhkan generasi muda yang berani menyampaikan kritik sekaligus mampu menawarkan solusi.

“Sumpah Pemuda bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan ujian atas komitmen generasi hari ini. Pemuda harus berani mengkritik tanpa membenci, mendukung tanpa kehilangan nalar kritis, serta menawarkan perubahan tanpa meninggalkan idealisme. Sebab, masa depan bangsa tidak cukup dibangun dengan janji, tetapi membutuhkan keberanian untuk menjaga prinsip dan memperjuangkan kepentingan rakyat,” tutup Arfan Rusli Andili.